3 Manfaat Mengajarkan Anak Mandiri dan Tangguh

Media 0
3 Manfaat Mengajarkan Anak Mandiri dan Tangguh

 

Saat-saat menyenangkan yang dirasakan orangtua adalah ketika anak membutuhkan keberadaannya. Tapi, kita tak boleh lemah dan membiarkan hal ini terus berulang. Kenapa? Tekankan bahwa anak tak selamanya bisa mengandalkan orang sekitar. Ini adalah tugas besar orangtua yang tentunya tak bisa diremehkan, yaitu menjadikan anak mandiri dan tangguh. Memang sulit, tapi dukungan kita sangat diperlukan agar kemandiriannya berkembang. Setidaknya, anak diajarkan untuk bertanggung jawab atas tugas sederhana setiap hari.

Well, ketika anak telah memasuki tahun ke 5 dalam kehidupannya, aktivitas otaknya akan mampu mencapai 80%. Artinya, mereka bisa berpikir lebih fleksibel. Bahkan, mereka sudah pandai menyerap berbagai informasi. Di tahap ini pula, motivasi dan keinginannya untuk belajat semakin tinggi. Maka, ini adalah usia tepat untuk mendidiknya agar bersikap mandiri, lebih awal juga disarankan.

Ternyata, membiasakan si kecil untuk mandiri itu sangat penting dan begitu besar manfaatnya. Berikut uraian lengkapnya:

3 Manfaat Mengajarkan Anak Mandiri dan Tangguh

Menjadikan anak selalu bersikap bijak dan dewasa

Dengan mengajarkan kemandirian, maka kita akan berusaha membiarkan anak untuk mengetahui bahwa berusaha sendiri di setiap hal sangatlah penting. Karena masih balita, tugasnya ringan saja seperti beres-beres mainan. Sebaiknya, kita menerapkan kesepakatan dengan anak seperti menyediakan jadwal dan aturan sederhana tertentu. Tugas anak mengikuti jadwal juga peraturannya. Dengan begitu, anak nanti akan memahami yang namanya konsekuensi. Saat cara ini dilakukan secara konsisten, anak akan mengerti dan bersikap lebih dewasa dibanding teman seumurannya.

Membangun kepercayaan

Dalam pembentukan sikap mandiri, anak juga membangun kepercayaan dirinya ketika belajar mengutarakan pemikirannya. Ini akan dijadikan pelajaran berharga agar kelak saat hidup berjauhan dengan orangtua bisa tetap tangguh dan meraih kesuksesan.

Memotivasi si kecil

Sikap mandiri anak ditandai dengan beraninya ia untuk belahar dan berhadapan dengan hal baru. Ya, anak juga tak jarang akan berbuat kesalahan. Dari kejadian tersebut, anak justru akan semakin penasaran dan termotivasi untuk selalu berusaha. Anak dengan sikapnya yang mandiri cenderung fokus terhadap sebuah proses. Artinya, bukan hasil yang menjadi patokannya. Inilah anak mandiri yang real.

Tips mengembangkan kemandirian anak

  • Memberikan apresia pada setiap hal positif yang berhasil dilakukan si kecil walaupun hasil tak sesuai harapan. Pujian inilah yang akan membuat semangatnya semakin membara dan dirinya termotivasi untuk mempelajarinya lagi di kesempatan lain.
  • Jangan terburu-buru ibah dan membantunya saat kesulitan. Sebaiknya, mendorong semangatnya agar tetap mencoba dan tak gampang pasrah dengan keadaan.
  • Memberi kesempatan anak untuk memilih. Ketika anak ingin sesuatu, tugas kita adalah membiarkannya untuk menentukan pilihan. Dan, jika pilihannya kurang tepat, saatnya kita yang mengarahkan.
  • Pancinglah anak untuk bisa berbagi, berdiskusi, dan berpendapat. Dalam hal ini, pastikan ada hal yang sedang dihadapinya yang mana butuh solusi tepat.
  • Ajarkan anak agar lebih peka terhadap keadaan sekitar. Ini tentu agar anak peduli dengan sesama.
  • Ajaklah anak untuk mengkhayalka masa depannya, seperti ingin jadi apa ia kelak.
  • Dan, ini yang paling utama. Ajarkan ke anak bahwa semandiri apapun dirinya, tetap libatkan sang Pencipta dalam segala hal.

Well, sekarang, kita sudah paham bahwa mengajarkan anak mandiri itu manfaatnya sungguh tak terduga. Satu hal yang pasti, belajar mandiri tak mengajarkan anak untuk melupakan orangtua. Faktanya, anak tak akan pernah lepas sepenuhnya dari orangtua. Anak hanyalah belajar agar bisa mengatur kehidupannya kelak tanpa selalu bergantung pada orang tersayang termasuk orangtua.

 

 

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *